
Cirebon Kabupaten,G.-
Sedekah Bumi merupakan kegiatan rutin yang dianggap sakral dari banyak desa di Kabupaten Cirebon. Seperti juga di desa Pekantingan tradisi Sedekah Bumi dengan di gelar acara Wayang Kulit telah setiap tahun berlangsung turun temurun dari generasi ke genarasi. Kepala Desa Pekantingan yang lebih familiar disebut Abang Suharto menyampaikan kegiatan itu ketika diwawancara media Gelombang, (6/11/2020) di Balai Desa Pekantingan Kecamatan Klangenan.
“ Acara ini acara tahunan , yang acara tahunan itu adalah lelang. Pertama pra lelang dengan mengundang BPD, kedua langsung Lelang dengan para petani. Kegiatan lelang tanah titisara kepada Petani tiap tahun itu dilaksanakan. Hasilnya untuk Petani juga baik itu untuk pembangunan maupun untuk irigasi. Adapun yang dilelang hanya 20 lorog, yang per lorog harganya Rp 3.150.000.-
( tiga juta seratus lima puluh ribu rupiah) untuk petani yang tidak mampu. Setelah Lelang dilanjutkan sampai hari ini acara Sedekah Bumi berupa gelar Wayang Kulit yaitu adat yang dilaksanakan tiap tahun. Kalau sudah sedekah Bumi berarti berarti menandakan lelang tanah titisara/ sawah sudah selesai. “ tuturnya.
Suharto juga mengatakan kegiatan yang lainnya berupa irigasi dan pengerukan merupakan pembangunan yang manfaatnya untuk para petani. Untuk biaya acara sedekah bumi sumber mengatakan tidak memungut dari masyarakat atau petani, akan tetapi biaya kegiatan Sedekah Bumi ditanggung sepenuhnya oleh Desa Pekantingan.
“ Sedekah bumi itu Selametan Bumi, mau ditanami awal pertama bertani itu. Yang namanya sedekah bumi itu harus ada wayang dari dulunya untuk melestarikan adat. Setiap mau tanam harus ada wayang dulu, namanya sedekah bumi. Sedekah itu Selametan , Bumi itu tempat tanamnya Padi. ” Tutur Abang Suharto.
Abang Suharto beserta masyarakat desa Pekantingan adanya kegiatan Sedekah Bumi , percaya akan ada hasil memuaskan di sektor
pertaniannya . “ Adat sedekah bumi ini dengan wayangan merupakan melanjutkan kebiasaan dari pendahulu sebelumnya. Alhamdulilah hasilnya lumayan bisa tiga kali panen dalam setahun,” pungkas Abang Suharto.
(Endi)

